Kamis, 30 April 2020

DISIPLIN SEBAGAI SALAH SATU KUNCI SUKSES


Sekolah merupakan tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Belajar mengajar tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan transfer ilmu pengetahuan dari guru ke siswa, tetapi belajar juga bisa dimaknai dalam berbagai kegiatan sekolah seperti bagaimana membiasakan seluruh warga sekolah disiplin dan patuh terhadap peraturan yang berlaku disekolah, saling menghormati dalam berinteraksi dengan warga sekolah yang lain serta menumbuhkan semangat berkompetisi secara sehat. Disadari atau tidak oleh siswa, sekolah menjadi salah satu tempat pendadaran bagi mereka untuk belajar tentang banyak hal agar kelak menjadi orang yang eksis dan sukses. Dan salah satu kunci sukses itu adalah disiplin. Kedisiplinan merupakan syarat mutlak untuk mencapai impian hidup, dalam mengembangkan diri, dalam mengelola waktu, dalam melatih keterampilan kita dalam setiap bidang yang kita pilih. Belajar banyak dari orang-orang luar biasa, mereka menjadi sukses, menjadi hebat juga karena disiplin. Disiplin dalam usaha kerasnya meraih sukses.

Menurut Paul J. Meyer, penulis buku 24 Kunci Sukses, Disiplin adalah suatu keharusan yang pantas kita miliki dalam kehidupan kita, sebab : "Jika seseorang tidak memiliki rasa disiplin, seseorang itu tidak akan memiliki apa-apa!" Bila kita berdisiplin dalam menjalankan rencana-rencana, maka rencana itu pasti dapat terwujud. Menurut Johar Permana, Nursisto 1986:14, Disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dan serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban. Sedangkan menurut Wikipedia, Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya termasuk melakukan pekerjaan tertentu yang menjadi tanggung jawabnya. Disini terkandung pengertian bahwa orang yang berdisiplin akan berperilaku apa yang seharusnya diperbuat dengan penuh kesadaran, tidak mengada-ada, tidak dilebih-lebihkan tetapi juga tidak dikurangi dari keadaan yang sebenarnya.
Tetapi sayangnya di berbagai sekolah masih banyak terjadi pelanggaran kedisiplinan, ketidak taatan pada peraturan. Banyak siswa yang datang terlambat, tidak tepat waktu dalam mengikuti sholat jamaah, banyak yang tidak mengerjakan tugas. Mau datang pagi-pagi ke sekolah tidak supaya terlambat tetapi karena belum mengerjakan PR, sehingga datang pagi untuk pinjam tugas punya teman. Dan lebih memprihatinkan lagi muncul “Budaya Sandal Jepit” dan acara sarapan pagi bersama di kelas dengan mengorbankan jam pelajaran atau jajan pada jam pelajaran dengan alasan ijin ke kamar kecil.
“Budaya Sandal Jepit” ini tidak tahu berawal dari mana, tetapi herannya siswa begitu PD-melakukannya, berjalan ke luar kelas pada waktu jam pelajaran dengan memakai sandal jepit atau bahkan pada pelajaran berlangsungpun, berani bersandal jepit.  Ketika ditegur pun, dengan entengnya menjawab kalau Sumuk, atau mau kekamar mandi. Sebagai bentuk ketidakdisiplinan tentu saja ini tidak bisa didiamkan, harus dihilangkan.
Upaya menumbuhkan disiplin bisa dilakukan dengan : Pertama : Keteladanan. Guru hendaknya bisa menjadi contoh dalam berdisiplin, misalnya tepat waktu. Siswa tidak akan memiliki disiplin manakala melihat gurunya sendiri juga tidak disiplin. Guru harus menghindari kebiasaan masuk menggunakan jam karet, molor dan selalu terlambat masuk kelas. Bila guru tidak mampu menerapkan disiplin dengan baik maka siswa mungkin menjadi kurang termotivasi dan memperoleh penekanan tertentu, dan suasana belajar menjadi kurang kondusif untuk mencapai prestasi belajar siswa. Kedua : Teguran. Mengetahui banyaknya pelangggaran yang dilakukan siswa tentu saja tidak tidak bisa didiamkan, guru wajib menegur, pada saat itu juga dan dimanapun, tidak harus di dalam kelas. Apalagi seperti di madrasah kita yang sudah diterapkan Poin-poin yang jelas dan tegas tidak boleh dilanggar, maka guru bisa bertindak sebagai pengawal dari aturan tersebut, dalam artian guru bisa langsung menegur siswa yang melanggar. Ini juga sebagai bentuk kontrol diri kepada siswa. Ketiga : Pembinaan. Secara konsisten para guru terus mensosialisasikan kepada siswa tentang pentingnya disiplin dalam belajar, dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, keluarga ataupun di masyarakat untuk dapat mencapai hasil optimal, dilanjutkan dengan pembinaan secara konsisten dan terus menerus. Keempat : Sanksi. Sanksi diberlakukan, dengan berbagai tingkatan sanksi untuk pencapaian akumulasi pelanggaran poin. Hanya saja mungkin perlu ditegakkan lagi konsistensi dari sekolah utamanya guru-guru dalam menyikapi bila terdapat pelanggaran siswa, baik itu pelanggaran dari akumulasi poin maupun kesepakatan dari pelanggaran lain yang tidak tertera dalam tata tertib tapi sudah melanggar etika, seperti sarapan bersama di kelas yang sudah memotong jam pelajaran, atau memakai sandal jepit pada jam pelajaran.
Disiplin bisa dimulai dari dalam diri sendiri dan harus dilakukan dengan hati, sehingga karena sudah menyatu dalam dirinya, maka sikap atau perbuatan yang dilakukan bukan lagi dirasakan sebagai beban, namun sebaliknya akan membebani dirinya apabila ia tidak berbuat disiplin. Sedangkan disiplin yang tidak bersumber dari kesadaran hati nurani akan menghasilkan disiplin yang lemah, tidak akan bertahan lama, mudah dipengaruhi orang lain untuk tidak berdisiplin lagi.
Menurut John Maxwell, penulis buku Developing The Leader Within You, ada empat hal yang harus diperhatikan untuk melakukan pengembangan diri secara disiplin sehingga dapat membangkitkan potensi dahsyat yang kita miliki. Empat hal tersebut adalah start with yourself – start early – start small – start now. Mulai dari diri sendiri – sesegera mungkin – sedikit demi sedikit – lakukan sekarang. Memang, segala sesuatu akan lebih mudah dan nyaman bila dimulai dari diri sendiri. Tidak usah banyak ngomong tetapi langsung diwujudkan pada sikap dan tindakan nyata sebagai wujud keteladanan. Untuk memulai terkadang berat, tetapi kalau tidak segera kita mulai yang rugi juga diri kita sendiri. Untuk sesuatu yang positif memang harus segera kita mulai dari sekarang, meski  dengan sedikit demi sedikit dan selanjutnya hal itu di jadikan pembiasaan supaya bisa menjadi kebiasaan. Contoh disiplin diri : dengan tidak mengabaikan ajaran agama, tertib sholat misalnya. Atau tidak mengaktifkan Hp pada waktu mengikuti sholat jamaah di mushola. Tidak malah sebaliknya menjadikan hp sebagai ganti untuk berdzikir. Sangat ironis sekali, bila begitu selesai salam dalam sholat tidak untuk berdzikir tetapi malah untuk browsing, sms-an, facebook-an. Sungguh terlalu. Hendaknya kita selalu mendisiplinkan diri, bila ingin sukses. Jangan sampai menunggu didisiplinkan orang lain. (NW)

CORONA MEWABAH, DINAMIKA PENDIDIKAN BERUBAH.


Saat ini dunia sedang berduka akibat mewabahnya Corona atau disebut virus Covid-19 (Corona Virus Diseases 19). Tidak terkecuali di Indonesia, hingga saat ini kondisi penyebaran virus tersebut masih memprihatinkan dan belum bisa diprediksikan kapan berakhirnya. Data terbaru dari pemerintah yang disampaikan oleh jurubicara Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto, jumlah pasien positif virus Corona (Covid-19) di Indonesia pada Jumat (24/4) mencapai 8.211 orang. Dari jumlah itu pasien 689 orang meninggal dunia dan 1.002 orang dinyatakan telah sembuh (Jakarta, CNN Indonesia).

Dampak virus ini telah dirasakan hampir di seluruh sendi kehidupan, mulai dari ekonomi, social, budaya, religi sampai di sektor krusial di bidang pendidikan. Kebijaksanaan pemerintah yang meliburkan atau memindahkan proses pembelajaran dari sekolah/madrasah membuat kegusaran banyak pihak. Peralihan cara belajar tatap muka menjadi pembelajaran dengan memanfaatan tehnologi  atau lebih dikenal dengan pembelajaran daring menjadi pilihan yang ditempuh agar pembelajaran tetap berlangsung. Namun demikian ketidaksiapan pelaku pendidikan akan pembelajaran daring menjadi kendala utama dalam proses pembelajaran ini, karena memang sebelumnya para pelaku pendidikan belum memanfaatkan atau belum menguasai teknologi yang berkembang. Belum lagi lokasi sekolah/madrasahnya jauh di pedalaman/memiliki asesibilitas yang rendah yang belum tersentuh kemajuan teknologi sedikitpun. Tentunya ini perlu dipikirkan oleh pelaku pendidikan yang mempunyai kedudukan strategis dalam menentukan kebijaksanaan.
Pembelajaran daring selama mewabahnya virus Corona ini telah menimbulkan dinamika pendidikan yang begitu cepat, bahkan terkesan kelimpungan bagi pelaku pendidikannya karena terkendala dengan keterbatasan masing-masing. Adapun perubahan dinamika pendidikan itu antara lain :
1.  Guru
Pembelajaran daring memaksa guru dengan berbagai tingkatan kemampuan untuk berakrab-akrab dengan teknologi. Pembelajaran daring bisa dilaksanakan melalui whatshapp yang sudah familiar, atau web e-learning yang sekarang ini banyak ditawarkan, baik berbayar maupun gratis, dan akan lebih bagus lagi apabila pihak sekolah/madrasah mempunyai web e-learning resmi.
Hal yang harus dilakukan guru sebelum daring tentu harus mempersiapkan bahan ajarnya baik berupa power point, hand out atau soal-soal latihan. Kalau hal ini guru belum siap atau belum mempunyai bahan ajar, tentu akan menghambat kecepatan proses pembelajaran. Harus menunggu dulu guru membuat, itu butuh waktu.
Pembelajaran daring memang membawa perubahan yang masif dalam dunia pendidikan. Bagi guru sendiri pembelajaran daring ini berdampak menjadikan guru untuk tidak lagi ‘Gagap Teknologi (Gaptek)’. Guru yang lahir tahun 1980 ke bawah yang belum banyak merasakan pemanfaatan penggunaan teknologi android semasa mudanya, tentu merasakan kesulitan dalam mengikuti ritme pembelajaran daring ini. Meski sebenarnya guru termasuk insan pembelajar yang setiap saat harus bisa mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi. Kalaulah mereka mau tentu tidak ada kata ‘Tidak Bisa’ dalam mempelajari dan memanfaatkan teknologi. Namun perlulah diingat, semua juga tidak kalah dari ‘terbiasa’, apalagi umur  juga mempengaruhi tingkat kecepatan dalam belajar. Menghadapi hal ini tentu guru tidak boleh hanya berpangku tangan, tetap harus berupaya antaralain bisa dengan meminta bantuan anaknya atau orang lain untuk mengajari agar pembelajaran daring yang menjadi tugasnya tetap bisa terlaksana. Jadi intinya guru tidak lagi menjadi ‘Gaptek’.Guru harus memiliki semangat belajar yang tinggi termasuk semangat belajar memanfaaqtkan tehnologi pembelajaran. Guru harus berfungsi menjadikan siswa yang semula tidak tahu menjadi tahu, semula tidak paham menjadi paham, harus ada orientasi kesana tanpa mengenal usia dan jender.

2.  Orang tua
Pemahaman orang tua akan pembelajaran daring juga berbeda-beda, meskipun pada dasarnya pendidikan adalah mutlak akan tanggung jawab orang tua,dimana dalam hal ini orang tua juga harus siap dengan segala dinamika pendidikan yang terjadi saat ini.
Pembelajaran daring yang terjadi saat ini memaksa orang tua untuk ikut tanggap memantau dan menyediakan fasilitas daring bagi anaknya, seperti handphone/laptop dan kuota internet. Bagi orang tua tentu saja hal ini akan memberikan permasalahan baru. Kebutuhan akan pembelajaran daring memaksa orang tua untuk merogoh kocek lebih dalam lagi untuk memenuhi kebutuhan kuota android anaknya. Bagi orang tua yang mempunyai ekonomi mapan tentu hal ini bukan masalah, tetapi bagi orang tua dengan ekonomi pas-pasan tentu ini masalah yang besar. Belum lagi perihal pendampingan anak selama di rumah. Orang tua harus bisa menciptakan kondisi belajar di rumah secara kondusif. Orang tua akan menjadi tahu bagaimana tipe belajar anaknya, termasuk yang malas, cuek atau rajin. Orang tua yang tidak memahami ini pasti bawaannya hanya marah-marah atau mengeluh karena kerepotan mendidik anak. Bahkan mereka lebih senang kalau anaknya di sekolah saja karena sudah kewalahan mengatur anaknya. Jadi pembelajaran daring ini dapat merubah pemahaman dan perlakuan orang tua dalam belajar anaknya. Sisi negatifnya tentu saja dari segi biaya, membuat anggaran pengeluaran menjadi melonjak tiba-tiba, terlebih bagi orang tua sekaligus juga guru.
3.  Siswa
Siswa sebagai pelaku utama belajar, juga dituntut untuk tidak gaptek dalam mengikuti perkembangan teknologi yang bisa menunjang cara belajarnya. Meskipun anak jaman milenial sekarang rata-rata sudah memakai android dalam kesehariannya akan tetapi untuk menunjang pembelajaran ternyata mereka belum semuanya memahami pemanfaatannya, karena selama ini pemanfaatan android hanya untuk bersenang-senang saja, untuk chatting, nge-game, kalaulah mau browsing, hanyalah untuk yang sifatnya hiburan bukan pelajaran. Pemanfaatan android belum berbasis pendidikan tapi lebih kepada media gaul dan komunikasi.
Bagi siswa yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, android masih merupakankebutuhan mahal yang tidak bisa dipenuhi. Hal ini juga perlu dipikirkan cara lain bagi guru dalam pembelajaran daring agar siswa tersebut tetap bisa mengikuti. Selain kendala sinyal.

4.  Sekolah
Pembelajaran dari peristiwa mewabahnya Corona ini bisa menyadarkan pihak sekolah/madrasah untuk lebih meningkatkan fasilitas sarana prasarana bagi pembelajaran siswa dan guru, dan tentu diikuti dengan pelatihan cara pemanfaatannya. Bagi sekolah yang tidak segera tanggap dengan perkembangan teknologi tentu akan kesulitan melaksanakan pembelajaran daring, padahal ini kebijaksanaan pemerintah yang harus dipatuhi dan dijalankan. Bahkan suatu saat bisa jadi akan ditinggalkan masyarakat.
Mewabahnya Corona membuat program-program sekolah/madrasah dibatalkan seperti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), Ujian Akhir Sekolah Berstandart Nasional (UASBN), pelarangan pengumpulan orang-orang dalam jumlah banyak dan program-program sekolah yang lain. Kalau dulu bagi sekolah/madrasah ujian-ujian ini merupakan salah satu penentu kelulusan siswa dan parameter akan kualitas sekolah/madrasah di mata masyarakat, akibat mewabahnya Corona ini semua menjadi tidak berarti apa-apa Paradigmanya sudah berubah.
5.  Pemerintah
Pemerintah sangat berperan penting dalam menetapkan dan mengatur sistem pendidikan di tengah wabah Corona ini. Langkah itu sudah diambil, pembelajaran dari rumah dengan sistem daring sudah diberlakukan dan semua elemen sekolah/madrasah harus mematuhi. Pelaksanaannya bisa disesuaikan dengan kondisi sosial, ekonomi, geografi dan pertimbangan lain yang mempengaruhi. Yang intinya sistem pendidikan tetap harus berjalan.
Ujian-ujian sekolah/madrasah yang belum sempat dilaksanakan, bisa dilaksanakan dengan daring, siswa tidak perlu hadir secara fisik ke sekolah/madrasah. Apabila sekolah tidak siap mengadakan ujian jarak jauh, alternatif yang ditawarkan pemerintah yakni dengan mempertimbangkan portofolio nilai rapor dan prestasi siswa yang diperoleh sebelumnya. Selain itu, syarat penentu kelulusan juga bisa ditentukan melalui penugasan atau penilaian jarak jauh.

     Demikianlah mewabahnya Corona  telah membuat dinamika pendidikan berubah. Tidak menutup kemungkinan untuk kedepannya pembelajaran daring ini akan ditetapkan sebagai ketetapan dalam proses belajar mengajar di sekolah/madrasah, mengingat jaman global sekarang masyarakat tidak bisa terlepas dari teknologi. Zaman selalu berubah dan orang tua tidak boleh apatis, karena cara pendidikan anakpun harus mengikuti perubahan zaman. Bisa dipastikan jika anak tetap gagap tehnologi akan ketinggalan informasi dan menghambat proses pembelajaran. Dinamika adalah tehnologi tetapi tetap memiliki karakter moral yang kuat dan tangguh.

DISIPLIN SEBAGAI SALAH SATU KUNCI SUKSES

Sekolah merupakan tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Belajar mengajar tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan transfer ilmu ...