Sekolah
merupakan tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Belajar mengajar
tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan transfer ilmu pengetahuan dari guru ke
siswa, tetapi belajar juga bisa dimaknai dalam berbagai kegiatan sekolah
seperti bagaimana membiasakan seluruh warga sekolah disiplin dan patuh terhadap
peraturan yang berlaku disekolah, saling menghormati dalam berinteraksi dengan
warga sekolah yang lain serta menumbuhkan semangat berkompetisi secara sehat.
Disadari atau tidak oleh siswa, sekolah menjadi salah satu tempat pendadaran
bagi mereka untuk belajar tentang banyak hal agar kelak menjadi orang yang
eksis dan sukses. Dan salah satu kunci sukses itu adalah disiplin. Kedisiplinan
merupakan syarat mutlak untuk mencapai impian hidup, dalam mengembangkan diri,
dalam mengelola waktu, dalam melatih keterampilan kita dalam setiap bidang yang
kita pilih. Belajar banyak dari orang-orang luar biasa, mereka menjadi sukses,
menjadi hebat juga karena disiplin. Disiplin dalam usaha kerasnya meraih sukses.
Menurut Paul J. Meyer, penulis buku 24 Kunci
Sukses, Disiplin adalah suatu keharusan yang pantas kita miliki dalam
kehidupan kita, sebab : "Jika seseorang tidak memiliki rasa disiplin,
seseorang itu tidak akan memiliki apa-apa!" Bila kita berdisiplin dalam
menjalankan rencana-rencana, maka rencana itu pasti dapat terwujud. Menurut Johar Permana, Nursisto 1986:14, Disiplin adalah suatu
kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dan serangkaian perilaku
yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan
atau ketertiban. Sedangkan menurut Wikipedia, Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai
yang dipercaya termasuk melakukan pekerjaan tertentu
yang menjadi tanggung jawabnya. Disini terkandung pengertian bahwa orang yang berdisiplin
akan berperilaku apa yang seharusnya diperbuat dengan penuh kesadaran, tidak
mengada-ada, tidak dilebih-lebihkan tetapi juga tidak dikurangi dari keadaan
yang sebenarnya.
Tetapi sayangnya di
berbagai sekolah masih banyak terjadi pelanggaran kedisiplinan, ketidak
taatan pada peraturan. Banyak siswa yang datang terlambat, tidak tepat waktu
dalam mengikuti sholat jamaah, banyak yang tidak mengerjakan tugas. Mau datang
pagi-pagi ke sekolah tidak supaya terlambat tetapi karena belum mengerjakan PR,
sehingga datang pagi untuk pinjam tugas punya teman. Dan lebih memprihatinkan
lagi muncul “Budaya Sandal Jepit” dan acara sarapan pagi bersama di kelas dengan
mengorbankan jam pelajaran atau jajan pada jam pelajaran dengan alasan ijin ke
kamar kecil.
“Budaya Sandal Jepit” ini tidak tahu berawal dari mana, tetapi herannya
siswa begitu PD-melakukannya, berjalan ke luar kelas pada waktu jam pelajaran
dengan memakai sandal jepit atau bahkan pada pelajaran berlangsungpun, berani
bersandal jepit. Ketika ditegur pun,
dengan entengnya menjawab kalau Sumuk, atau mau kekamar mandi. Sebagai
bentuk ketidakdisiplinan tentu saja ini tidak bisa didiamkan, harus dihilangkan.
Upaya menumbuhkan disiplin bisa dilakukan dengan : Pertama
: Keteladanan. Guru hendaknya bisa menjadi contoh dalam berdisiplin,
misalnya tepat waktu. Siswa tidak akan memiliki disiplin manakala melihat
gurunya sendiri juga tidak disiplin. Guru harus menghindari kebiasaan masuk
menggunakan jam karet, molor dan selalu terlambat masuk kelas. Bila guru tidak
mampu menerapkan disiplin dengan baik maka siswa mungkin menjadi kurang
termotivasi dan memperoleh penekanan tertentu, dan suasana belajar menjadi
kurang kondusif untuk mencapai prestasi belajar siswa. Kedua : Teguran.
Mengetahui banyaknya pelangggaran yang dilakukan siswa tentu saja tidak
tidak bisa didiamkan, guru wajib menegur, pada saat itu juga dan dimanapun,
tidak harus di dalam kelas. Apalagi seperti di madrasah kita yang sudah
diterapkan Poin-poin yang jelas dan tegas tidak boleh dilanggar, maka guru bisa
bertindak sebagai pengawal dari aturan tersebut, dalam artian guru bisa langsung
menegur siswa yang melanggar. Ini juga sebagai bentuk kontrol diri kepada
siswa. Ketiga : Pembinaan. Secara konsisten para guru terus
mensosialisasikan kepada siswa tentang pentingnya disiplin dalam belajar, dalam
kehidupan sehari-hari di sekolah, keluarga ataupun di masyarakat untuk dapat
mencapai hasil optimal, dilanjutkan dengan pembinaan secara konsisten dan terus
menerus. Keempat : Sanksi. Sanksi diberlakukan,
dengan berbagai tingkatan sanksi untuk pencapaian akumulasi pelanggaran poin.
Hanya saja mungkin perlu ditegakkan lagi konsistensi dari sekolah utamanya
guru-guru dalam menyikapi bila terdapat pelanggaran siswa, baik itu pelanggaran
dari akumulasi poin maupun kesepakatan dari pelanggaran lain yang tidak tertera
dalam tata tertib tapi sudah melanggar etika, seperti sarapan bersama di kelas
yang sudah memotong jam pelajaran, atau memakai sandal jepit pada jam
pelajaran.
Disiplin bisa dimulai dari dalam diri sendiri dan
harus dilakukan dengan hati, sehingga karena sudah menyatu dalam dirinya, maka sikap atau
perbuatan yang dilakukan bukan lagi dirasakan sebagai beban, namun sebaliknya
akan membebani dirinya apabila ia tidak berbuat disiplin. Sedangkan disiplin
yang tidak bersumber dari kesadaran hati nurani akan menghasilkan disiplin yang
lemah, tidak akan bertahan lama, mudah dipengaruhi orang lain untuk tidak
berdisiplin lagi.
Menurut John Maxwell,
penulis buku Developing The Leader Within You, ada empat hal yang harus diperhatikan
untuk melakukan pengembangan diri secara disiplin sehingga dapat membangkitkan
potensi dahsyat yang kita miliki. Empat hal tersebut adalah start with
yourself – start early – start small – start now. Mulai
dari diri sendiri – sesegera mungkin – sedikit demi sedikit – lakukan sekarang.
Memang, segala sesuatu akan lebih mudah dan nyaman bila dimulai dari diri
sendiri. Tidak usah banyak ngomong tetapi langsung diwujudkan pada sikap dan
tindakan nyata sebagai wujud keteladanan. Untuk memulai terkadang berat, tetapi
kalau tidak segera kita mulai yang rugi juga diri kita sendiri. Untuk sesuatu
yang positif memang harus segera kita mulai dari sekarang, meski dengan sedikit demi sedikit dan selanjutnya hal
itu di jadikan pembiasaan supaya bisa menjadi kebiasaan. Contoh disiplin diri : dengan tidak mengabaikan ajaran
agama, tertib sholat misalnya. Atau tidak mengaktifkan Hp pada waktu mengikuti
sholat jamaah di mushola. Tidak malah sebaliknya menjadikan hp sebagai ganti
untuk berdzikir. Sangat ironis sekali, bila begitu selesai salam dalam sholat
tidak untuk berdzikir tetapi malah untuk browsing, sms-an, facebook-an. Sungguh
terlalu. Hendaknya kita selalu mendisiplinkan diri, bila ingin sukses. Jangan
sampai menunggu didisiplinkan orang lain. (NW)