Setiap orang butuh berekspresi, karena ekspresi diri merupakan salah
satu bentuk aktivitas yang berguna untuk mengungkapkan seluruh perasaan,
gairah, keinginan, minat dan bakat yang dimiliki oleh seseorang. Begitu juga
manusia, apalagi masa-masa remaja. Di dalam dirinya ada segunung magma yang
senantiasa bergejolak mencari wadah untuk mengaktualisasikannya. Ada magma cinta,
magma emosi, magma rasa, magma minat, magma bakat, magma cita-cita, magma kasih
sayang sesama dan magma-magma lain yang harus diekspresikan dalam sebuah
aktivitas positif, sebab jika tidak, akan meletus dan berubah manjadi
letupan-letupan yang berbahaya.
Salah satu cara
mengekspresikan diri yang sangat positif, murah dan bermanfaat adalah dengan
tulisan. Dengan tulisan kita bisa ‘Kasih
Kata’, mengungkapkan perasaan senang, rindu, kasih sayang, marah, bahagia,
sedih dengan bebas tanpa ada batasan apapun. Kita dapat membangun apa saja
melalui tulisan, bahkan sesuatu yang
tidak bisa kita bangun dalam dunia nyata, kita bisa membangunnya lewat tulisan.
Dengan tulisan pula kita bisa buktikan pada dunia bahwa kita ada. Walaupun
fisik kita telah mati tetapi nama dan gagasan-gagasan kita akan tetap hidup dan
dikenal orang sepanjang masa.
Dengan menulis
kita bisa menjadi semakin cerdas, berpikiran jernih, terhindar dari stres,
memperoleh ilmu baru dan bisa memecahkan permasalahan dengan mudah. Karena itu
ekspresikan dirimu dengan menulis, menulis dan menulis.....! Tetaplah menulis
dengan sepenuh hati dan jangan pernah
berhenti. Menulis adalah proses belajar dan pendewasaan sehingga jangan takut
mendapat kritikan, cibiran, atau cemoohan. Dengan kritikan, tulisan menjadi
bagus dan lebih bagus. Bukankah kebagusan itu datang setelah ada kesungguhan ?
Memulai Dari Yang Sederhana
Segala sesuatu yang tumbuh pasti berawal dari yang
kecil kemudian baru berkembang menjadi besar. Karena itu , dalam mengawali
kegiatan tulis menulis bagi pemula, seperti saya, bisa memulai dari yang ringan
dan sederhana dulu, misalnya dengan menulis diary. Buku harian (diary) adalah
cerminan diri yang jujur dan mendalam dari seseorang. Dimulai dari kata-kata
sederhana dalam buku harian, jika kita bisa mengambil manfaatnya akan bisa
menyusunnya menjadi banyak rangkaian kata-kata indah hingga menjadi karya cipta
yang besar. Bukankah sesuatu yang ”Besar” tidak akan menjadi besar tanpa
bermula dari kecil dulu ?!
Menulis Perlu Pembiasaan
Menurut pengalaman penulis-penulis hebat, untuk bisa
menulis dengan baik, perlu “Pembiasaan”.
Kebiasaan menulis harus terus dibiasakan. Dalam rangka membiasakan menulis ,
tidak perlu dilakukan dengan memaksakan diri, tetapi bisa dilakukan sefleksibel
mungkin. Yang penting adalah membiasakan diri, menyempatkan diri tidak harus
dalam waktu tertentu. Dari kebiasaan itulah
kemampuan menulis, merangkai kata-kata bisa terasah. Seperti dikutip dari Aristoteles : “Kita adalah apa yang kita kerjakan secara
berulang-ulang. Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan yang sekali
jadi, melainkan sebuah kebiasaan”.
Bacalah Apa Saja
Membaca majalah, koran, novel, cerpen, lirik lagu,
puisi, ensiklopedia, buku-buku nonfiksi atau apa saja, dapat menambah wawasan
tentang kehidupan, penggunaan bahasa dan gaya penulisan. Dari situ kita bisa
belajar cara menulis selain juga sebagai bahan rujukan. Buku juga bisa sebagai penggugah saat kita patah semangat atau
yang membangunkan saat kita dalam kelupaan dan kebatilan. Ibaratnya, “Kita bisa
membaca, berarti kita bisa menulis”. Membaca dan menulis seperti dua sisi mata
uang yang tidak bisa dipisahkan, saling membutuhkan dan melengkapi.
Gali ide
Ide adalah salah satu syarat yang harus ada apabila
kita menulis, tanpa adanya ide orang bisa terhenti menuliskan rangkaian
kata-kata dalam bentuk tulisan. Ide tidak usah dicari kemana-mana, ide itu
sebenarnya ada dimana saja dan kapanpun kita bisa memperolehnya. Bahkan ide itu
bisa kita ciptakan sendiri, dari dalam diri kita sendiri. Kehidupan kita, permasalahan,
kejadian dan pengalaman kita adalah sumber ide yang tidak akan pernah kering.
Keluarga, teman-teman dan lingkungan juga dapat memperkaya ide-ide kita. Tinggal
kepekaan kita dalam mengadopsi permasalahan di lingkungan. Pertajam
pendengaran, penglihatan dan rasa inderawi kita untuk mengetahui permasalahan
yang ada, yang kemudian diidentifikasi, direnungkan dan akhirnya dipecahkan dan
dituangkan dalam bentuk ide. Dengan mempertajam kepekaan terhadap lingkungan
berarti kita telah menggunakan unsur 5W + IH (What, Who, When, Where, Why dan How) yang merupakan nadi pokok tulisan.
Bila dalam benak kita terlintas suatu ide cemerlang, segeralah mencatat atau
menulisnya, jangan pernah menunda, karena dengan menundanya berarti kita telah
membiarkan satu peluang emas hilang sia-sia. DO IT NOW OR NEVER !
Managemen waktu
Sesibuk apapun
kita, mengenai waktu sebenarnya bisa diatasi dengan cara me-manage waktu. Dalam me-manage waktu, kita bisa menyelipkan agenda menulis, meski hanya
satu jam dan tak peduli akan menulis apa. Yang penting menulis, sekalipun hanya
catatan kecil. Dalam hal ini penting sekali untuk disiplin atas apa yang telah kita agendakan.
Berani Dikritik.
Sejatinya setiap diri adalah penulis, jangan
pernah beranggapan bahwa menulis itu adalah bakat alami seseorang, melainkan
sebuah proses belajar yang perlu dilatih dan terus dilatih. Mulailah
menulis dari yang sederhana, yang
menurut kita menarik . Seiring bergulirnya waktu, asal mau berlatih, tulisan
kita akan menjadi baik, dan semakin baik.
Berani menulis, berarti berani untuk dibaca orang
yang berarti juga berani untuk dikritik orang. Kritik dan saran orang janganlah
dianggap sebagai cela, tetapi justru kita harus berterima kasih kepada mereka,
karena telah mengingatkan sesutu yang sebelumnya belum pernah kita pikirkan
atau memberikan sesuatu yang lebih baik. Ibarat orang belajar naik sepeda,
jangan gampang bosan dan mudah menyerah saat jatuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar